Pengrajin Wayang Kulit

Pengrajin wayang di Solo mengalami kesulitan memenuhi permintaan pelanggan. Kurangnya tenaga kerja, yang memiliki keahlian khusus seni sungging. Dengan kata lain tidak ada generasi penerus pengrajin wayang. Pengrajin “Sanggar Wayang Wawan” di Jalan Parang Klitik I No 19 Sondakan Kecamatan Laweyan Solo Jawa Tengah mengaku produksinya tidak mampu memenuhi pesanan pelanggan karena kurangnya tenaga kerja.

Seorang pengrajin Sanggar Wayang Wawan, Hernot Sarwani (55) warga RT 03/RW 05 Sondakan Laweyan Solo, Senin (28/9) , mengatakan dampak kurangnya tenaga kerja yang mempunyai keahlian sungging hasilnya belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. Dengan dibantu tiga orang tenaga kerja, dirinya belum mampu memenuhi pesanan yang rata-rata mencapai 10 hingga 15 biji berbagai tokoh pewayangan per bulan.

Dijelaskan kerajinan wayang kulit tersebut sangat rumit dan perlu ketelitian mulai dari menatah bahan baku kulit dari hewan kerbau yang memerlukan waktu hingga lima hari dan kemudian memberikan warna tidak selesai empat hari. “Kami dengan dibantu tiga tenaga kerja paling rata-rata mampu memproduksi delapan hingga 10 wayang per bulan. Hal ini, juga masih tergantung kemauan tenaga kerja apakah bisa menyelesaikan tepat waktu,” kata Hernot yang mengaku menekuni kerajinan wayang kulit ini sejak 1990 hingga sekarang.

Menyinggung rumitnya membuat kerajinan wayang kulit, Hernot mengatakan harga kerajinan wayang kulit hingga sekarang harganya mahal karena selain bahan baku, juga cara memproduksi perlu keahlian khusus sehingga di Solo sangat langka pengrajin ini. “Harga wayang kulit mahal karena cat warna kuning emas ada yang menggunakan emas asli sehingga ditawarkan hingga Rp5 juta per wayang, sedangkan paling murah Rp800 ribu per wayang,” katanya seperti diunduh laman Antaranews, Senin (28/09/2015).

Menyinggung soal pelanggan wayang kulit selama ini, Hernot menjelaskan datang dari para dalang dan kolektor dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, pelanggan wisatawan dari luar negeri juga ada untuk cendera mata seperti Australia dan Amerika Serikat. Namun, pihaknya tidak semua pesanan bisa dipenuhi karena sulitnya mencari tenaga kerja.

Industri Batik

BATIK merupakan sebuah warisan budaya leluhur yang harus dilestarikan. Batik dikenal masyarakat dunia sejak
UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada tanggal 2 Oktober 2009.
Minat masyarakat akan batik semakin meningkat, sehingga tidak sedikit yang mulai tertarik pada wisata batik di tempat-tempat penghasil batik di Kota Surakarta. Surakarta sebagai salah satu Kota penghasil batik, menjadi salah satu tempat wisata dengan keberadaan Kampung Batiknya. Saat ini Laweyan dibagi menjadi beberapa wilayah, yaitu Pajang, Laweyan, Sondakan, dan Bumi. Sondakan memiliki potensi sebagai Pusat Batik, karena memiliki sumber daya manusia, serta pabrik batik kelas menengah hingga industri batik.
BATIK PUSPITA MEKAR 
Alamat : Jalan Parang Pamor 8 , Sondakan , Telp. 081225162609
https://batik-puspita-mekar.business.site/?utm_source=gmb&utm_medium=referral
Batik Puspita Mekar adalah usaha mandiri yang didirikan pada tahun 1998, didirikan oleh H. Muhammad Mufid dan Hj. Upik Suratmi. Usaha ini

didirikan karena terdesak oleh kebutuhan hidup dari pendiri batik itu sendiri. Saat itu pemilik batik ini sedang memiliki banyak kebutuhan dan juga kondisi ekonomi saat itu sedang terpuruk. Pada saat itu pemilik batik ini mempunyai 6 orang anak dan saat itu mereka masih bersekolah semua walaupun di antaranya masih Sekolah Dasar dan juga SMP. Nilai rupiah saat itu juga sedang tidak stabil. Awalnya usaha batik ini didirikan oleh
H. Muhammad Mufid dan seorang sahabatnya yang bernama Hadi. Beliau berdua ini dahulunya ialah seorang buruh batik di salah satu pabrik batik, sedangkan Hj. Upik Suratmi dahulunya membantu penjualan batik pada salah satu juragan batik. Usaha batik yang dirintis ini dimulai dari nol . Mereka pun ingin merubah kehidupan perekonomian dengan cara berwirausaha batik sendiri agar tidak bergantung pekerjaan pada orang lain sehingga dapat memperbaiki kehidupan ekonominya. Usaha batik yang didirikan awalnya hanya dengan modal kepercayaan. Pada awal usahanya, beliau meminjam terlebih dahulu alat dan bahan yang akan digunakan untuk membatik.  Seperti kompor, wajan, mori, malam dan sebagainya. Setelah batik selesai diproduksi dan laku dijual, barulah alat dan bahan yang digunakan untuk memproduksi batik itu dibayar.
Pada tahun 1990, batik Puspita Mekar mencoba inovasi baru dengan menuangkan kreasi batik di atas T-Shirt. Produk inilah yang membedakan batik Puspita Mekar dengan batik yang lainnya sehingga batik Puspita Mekar masih bertahan sampai sekarang bahkan bekerja sama dengan batik ternama di Indonesia yaitu Batik Keris.

Canting Kakung

CANTING KAKUNG
Komunitas Canting Kakung merupakan komunitas yang berkreasi dengan media perpaduan seni lukis dan membatik. Workshop sementara yang beralamatkan RT.02 RW.XI di Kelurahan Sondakan, Laweyan, menjadi tempat mereka membuka inspirasi berkarya serta membuka siapa saja yang bersedia belajar membatik. ===============================Homepage : http://Timlo.tv/

Ketua Komunitas Canting Kakung : Margono